Testimoni: Antena Titis TT-1000

Testimoni: Antena Titis TT-1000

KARENA belum sempat, walau barang itu sudah saya terima seminggu yang lalu, ia baru saya pasang tadi malam. Untuk dua pesawat televisi di rumah saya, sebenarnya bisa saya memakai satu saja antena. Tinggal membelikan spliter, dijadikan bercabang dua, beres. Namun, dengan memasang dua antena, paling tidak, saya bisa membuat sedikit perbandingan dari dua antena berbeda.

Antena lama saya (merek dan jenisnya) sangat umum di pasaran. Warna merah pada bagian plastiknya, dengan desain yang tentu Anda telah kenal. Ia nangkring setinggi sekitar enam meter di samping rumah saya. Dengan antena tersebut, saya bisa menyaksikan siaran televisi di Surabaya dengan aman-aman saja. Kalaualah ada siaran televisi yang buram, sangat kepyur, dan gambarnya malah hanya tertangkap hitam-putih dengan suara kemresek bak sekumpulan lebah, itu hanya stasiun televisi yang sangat jarang saya intip. Jadi, tak masalah.

Ia baru menjadi sedikit masalah ketika saya membuat blog ini yang mengkhususkan diri bicara tentang televisi. Mana mungkin suatu kali saya menulis tentang siaran televisi terestrial ini atau itu yang gambarnya tertangkap tidak sempurna di layar televisi saya.

Dengan ketinggian dua meter lebih rendah dari antena pertama, sebenarnya saya tidak terlalu berharap banyak akan kebeningannya. Namun yang terjadi kemudian adalah, siaran-siaran yang dengan antena pertama terlihat buram, tampak kinclong dengan antena yang ukurannya lebih ramping ini. Misalnya, ArekTV yang tadinya penuh semut, tertangkap cling. BBSTV yang tertangkap hitam putih menjadi berwarna. Bahkan SurabayaTV yang buram dalam kategori akut, tampak lebih jelas walau tak bening-bening amat.

Kalaulah demikian, tentu televisi lain yang memang sudah bening, dapat saya nikmati siarannya dengan kualitas suara dan gambar lebih sempurna.

Saya bukanlah orang yang mengerti tentang rangkaian elektronika. Saya buta sama sekali tentang itu. Jadi, tentu saya tak bisa mengupasnya dari sisi itu. Patokan saya hanya sederhana; kalau dengan antena itu saya bisa mendapatkan gambar dan suara lebih bagus dibanding antena pertama, menurut saya, tentu antena yang kedua lebih oke. Lebih peka dalam menangkap sinyal.

Apa sih antena yang saya pakai? Ia adalah antena produksi Bantul, Jogjakarta. Namanya Titis TS-1000. Antena jenis ini, dengan kepekaannya, memang telah dirancang untuk bisa menangkap sinyal siaran televisi digital terestrial. Ia sudah ‘berjodoh’ dengan perangkat set top box DVB-T2.

Dengan harga bersaing, dengan desain yang tak kalah ramping dibanding produk sejenis, sepertinya antena ini juga cocok untuk pesawat televisi Anda. *****

SUMBER: https://sisitelevisi.wordpress.com/2013/05/08/antena-titis-ts-1000/

Sponsored Link